Minggu, 07 April 2019

Apa Pentingnya Komodo ??


Tugas Ekonomi Sumberdaya Hutan                                                      Medan,  April 2019
 
Manfaat Ekonomi Sumberdaya Hutan
Komodo (Varanus komodoensis)

Dosen Penanggungjawab
Dr. Agus Purwoko, S. Hut., M. Si

Oleh:
Afriza Suzaili Berutu
171201027
Hut 4B












PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019













Komodo

Berkas:Varanus komodoensis1.jpg
Komodo, atau yang selengkapnya dikata biawak komodo (Varanus komodoensis), yaitu spesies kadal terbesar di dunia yang hidup di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara. Biawak ini oleh penduduk asli pulau Komodo juga dikata dengan nama setempat ora. Termasuk anggota famili biawak Varanidae, dan klad Toxicofera, komodo menjadikan kadal terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang 2-3 m. Ukurannya yang besar ini berhubungan dengan gejala gigantisme pulau, yakni kecenderungan meraksasanya tubuh hewan-hewan tertentu yang hidup di pulau kecil terkait dengan tidak adanya mamalia karnivora di pulau tempat hidup komodo, dan laju metabolisme komodo yang kecil. Sebab besar tubuhnya, kadal ini menduduki posisi predator puncak yang mendominasi ekosistem tempatnya hidup.  Komodo ditemukan oleh peneliti barat tahun 1910. Tubuhnya yang besar dan reputasinya yang mengerikan membuat bentuk mereka populer di kebun binatang. Habitat komodo di alam bebas telah menyusut akibat acara manusia dan sebabnya IUCN memasukkan komodo bagi spesies yang rentan terhadap kepunahan. Biawak besar ini sekarang dilindungi di bawah peraturan pemerintah Indonesia dan sebuah taman nasional, yaitu Taman Nasional Komodo, dibangun bagi mengamankan mereka. klik disini

Anatomi dan morfologi

Kulit komodo.

Komodo liar dewasa biasanya memiliki berat sekitar 70 kg, tetapi komodo yang dipelihara di penangkaran sering kali memiliki bobot yang lebih berat. Spesimen liar terbesar yang pernah ditemukan panjangnya mencapai 3.13 meter dengan berat sekitar 166 kg, termasuk berat makanan yang belum dicerna di dalam perutnya. Komodo memiliki ekor yang sama panjang dengan tubuhnya. Meskipun komodo tercatat sebagai kadal terbesar di dunia, namun bukan spesies yang terpanjang. Reputasi panjang tubuh (tidak termasuk berat badan) dipegang oleh biawak Papua (Varanus salvadorii). Komodo jantan lebih besar daripada komodo betina, dengan warna kulit dari abu-abu gelap sampai merah batu bata, sementara komodo betina biasanya berwarna hijau kecokelatan dan memiliki bercak kecil kuning pada tenggorokannya. Komodo muda lebih bervariasi warnanya, dengan warna kuning, hijau dan putih dengan latar belakang hitam.
Di dalam mulut komodo dewasa, terdapat sekitar 60 buah gigi yang bergerigi tajam sepanjang sekitar 2.5 cm, yang sering terlepas atau ditanggalkan. Komodo memiliki lidah yang panjang, berwarna kuning kecokelatan dan bercabang. Air liur komodo merupakan salah satu hal yang sering dibicarakan banyak orang karena kebanyakan orang menganggapnya beracun seperti bisa ular atau kadal beracun, bahkan dianggap tidak ada obatnya, baik untuk mencegah maupun menetralkan racun tersebut. Walau begitu, hal ini menjadi perdepatan panjang diantara para ahli hewan di dunia.
 
Perilaku
 
Komodo liar hanya terdapat dan hanya bisa ditemukan di Indonesia di Nusa Tenggara Timur, tepatnya di pulau Komodo, Rinca dan beberapa pulau kecil di sekitarnya serta di pesisir barat pulau Flores. Habitat komodo adalah padang rumput terbuka (sabana) dan hutan belukar, terkadang juga di pesisir pantai. Komodo beraktivitas pada siang hingga sore hari, tetapi tetap berteduh ketika suhu udara sangat panas. Komodo adalah binatang yang penyendiri dan hanya berkumpul bersama pada saat makan atau berkembang biak. Biawak ini dapat berlari cepat hingga 20 km/jam pada jarak yang pendek. Komodo juga pandai berenang dan mampu menyelam sedalam 4.5 meter serta pandai memanjat pohon menggunakan cakar mereka yang kuat. Untuk menangkap mangsa yang berada di luar jangkauannya, komodo dapat berdiri dengan kaki belakangnya dan menggunakan ekornya sebagai penunjang. Seiring bertambahnya umur dan ukuran badan, komodo lebih sering menggunakan cakarnya sebagai senjata, karena ukuran tubuh yang besar menyulitkannya memanjat pohon. Untuk tempat berlindung, komodo mampu menggali lubang selebar 1–3 meter dengan tungkai depan dan cakarnya yang kuat. Karena ukuran tubuhnya dan kebiasaan tidur di dalam lubang, komodo dapat menjaga panas tubuhnya selama malam hari dan mengurangi waktu berjemur pada pagi hari selanjutnya.

 Hasil gambar untuk Taman nasional komodo
Ekosistem
Kehadiran ekosistem penyusun bentang alam Pulau Besar dan Pulau Kecil mendukung keberlanjutan populasi komodo (Varanus komodoensis). Pada tahun 1992 dan 1996, sebagian Pulau Besar dan Pulau Kecil ditetapkan sebagai taman nasional, meliputi Cagar Alam (CA) Wolo Tado, CA Riung dan Taman Wisata Alam Laut (TWAL) 17 Pulau. Pulau Besar atau Flores dan Pulau Kecil atau Ontoloe merupakan pulau di bagian Utara daerah Riung, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bentang alam karst mendominasi Pulau Besar dan Pulau Kecil. Tipe ekosistem yang ditemukan merespon bentang alam karst yaitu daerah dengan ketersediaan air tanah yang sedikit (IUCN 2008) dan lapisan tanah yang tipis. Ekosistem hutan ekoton merupakan ekosistem antara ekosistem hutan bakau dan ekosistem hutan sabana. Tipe ekosistem hutan ekoton di Pulau Besar, khususnya di Wolo Tado telah diubah menjadi jalan raya. Sedangkan di Riung, tidak ditemukan ekosistem hutan ekoton sebab langsung berbatasan dengan tebing atau cliff. Ekosistem hutan ekoton di Pulau Kecil telah dikoloni oleh semak Lantana camara. Seperti dijelaskan sebelumnya, bentang alam karst mendominasi Pulau Besar dan Pulau Kecil maka kehadiran komunitas vegetasi di ekosistem karst sebagai respon terhadap karst. Achmad (2011) menyatakan komunitas tumbuhan karst memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap kekurang air, lapisan air tanah yang tipis dan kemiringan topografi. Usikan yang terjadi di karst cenderung berubah ke arah negatif sehingga penebangan, pengubahan bentuklahan dan revegetasi harus bijak (Blegur dkk, 2017).

Pemanfaatan
            Jasa Lingkungan dipandang sebagai penggerak ekonomi kehutanan masa depan. Dalam dua dekade terakhir, sektor wisata telah menjadi pemasukan eksternal bagi negara berkembang dibanding sektor lain dan fenomena yang sama dapat diamati pada Taman Nasional Komodo. Pemasukan taman nasional menjadi isu yang penting dalam manajemen kawasan konservasi karena dalam pengelolaannya kawasan konservasi khususnya taman nasional sangat tergantung pada pendanaan dari pemerintah. Posisi tawar kawasan konservasi menjadi rendah karena pemasukan dari kawasan konservasi yang sangat luas tidaklah sebanding. Hal ini menunjukkan bahwa konservasi dan pemanfaatannya sudah saatnya untuk mendapatkan porsi perhatian yang sama. Taman Nasional Komodo (TNK) dengan sumberdaya alamnya yang unik menjadi daya tarik kedatangan wisatawan. Kunjungan ke TNK ini membawa pemasukan bagi negara dalam bentuk PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak).  PNBP yang menjadi wujud dari manfaat penyelenggaraan wisata alam, sektor bisnis turut berkembang dan masyarakat juga memperoleh manfaat baik ekonomi maupun sosial budaya dari pertukaran informasi yang terjadi dengan wisatawan yang berasal dari berbagai wilayah. Pemanfaatan jasa lingkungan wisata alam TNK dilakukan dengan menjadikan keunikan dan keanekaragaman sumberdaya alam sebagai modal daya tarik kunjungan (Muthiah dkk, 2015).
            Komodo sendiri juga punya pengaruh penting dalam memperkenalkan Indonesia dikancah Internasional, komodo dikenal hanya ada di Indonesia dan sudah diakui dunia. Dengan semakin terkenalnya komodo otomatis membuat tempat tinggalnya pun terkenal, sekarang bagaimana cara kita melestarikan komodo yaitu salah satunya dengan cara menjaga ekosistem aslinya. Komodo juga sering dimanfaatkan sebagai media pendidikan.


Sumber :
Blegur, Willem Amu., Tjut Sugandawaty Djohan., Su Ritohardoy. 2017. Vegetasi Habitat Komodo dalam Bentang Alam Riung dan Pulau Ontoloe di Nusa Tenggara Timur. Jurnal Majalah Geografi Indonesia 31 (1) : 95-111.

Muthiah, J ., Rinekso Soekmadi., Dodik Ridho Nurrochmat.2015. Dampak Kegiatan Wisata Alam Bagi Masyarakat Dalam Kawasan Taman Nasional Komodo Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jurnal Risalah Kebijakan Pertanian dan Lingkungan  2(1) : 60-69.

 https://id.wikipedia.org/wiki/Komodo

Apa Pentingnya Komodo ??

Tugas Ekonomi Sumberdaya Hutan                                                       Medan,   April 201 9   Manfaat Ekonomi Sumberd...